Bahasa Indonesia
Foto dibuat oleh AXP Photography di Pexels.com
Ketika frasa 'things to do in Bukhara, Uzbekistan' muncul, bagi sebagian besar turista, pertama kali teringat adalah minaret 47 meter dari Kompleks Po-i-Kalyan, benteng 20 hektar dari Ark of Bukhara, dan Mauzoleum Samanid dari abad ke-9. Mauzoleum yang dibangun pada tahun 795 merupakan bangunan bata Islam yang paling tua di Asia Tengah. Layak untuk butang waktu minimal dua hari di kota.
Qui vedi uno dei
Fakta cepat: Minaret setinggi 46 meter ini begitu memukau Genghis Khan sehingga ia membiarkannya tidak dihancurkan. Kompleks yang terdiri dari tiga bangunan ini telah membentuk pemandangan kota Bukhara selama lebih dari 800 tahun.
Sorotan: Dari puncak menara, suara muazin terdengar hingga 10 kilometer dalam keheningan gurun. Pola bata menara ini menampilkan 14 ornamen geometris berbeda, yang masing-masing hanya terlihat dari arah yang berbeda.
Di sini kamu bisa merasakan bagaimana rasanya hidup di istana seorang emir Asia Tengah. Di antara dinding bata kuning, masa lalu menjadi hidup di setiap langkah.
Fakta cepat: Dinding benteng yang membentang seluas 3 hektar ini menjulang setinggi 20 meter. Kediaman penguasa ini menyimpan ratusan ruangan, dari ruang harta karun hingga ruang penyiksaan.
Sorotan: Di bawah tanjakan besar menuju pintu masuk, dahulu rantai para tahanan berdentang ketika mereka dilemparkan ke bawah kuku kuda yang berjalan di atas kepala mereka. Langit-langit ruang singgasana dilapisi lempengan emas, sementara karpet-karpetnya datang dari seluruh penjuru kekaisaran.
Salah satu permata arsitektur Islam tertua, tempat bata-bata terjalin seperti kain. Masuklah, dan biarkan bentuk serta bayangan memukau dirimu.
Fakta cepat: Bangunan dengan pelapis bata bermotif bintang ini merupakan salah satu makam tertua yang masih bertahan di dunia Islam, dan merupakan puncak pencapaian seni bata Asia Tengah. Berdiri di atas denah persegi, dinding bangunan berkubah ini tersusun dari bata yang dipahat halus baik dari luar maupun dalam, yang seolah bergerak seiring perubahan cahaya.
Sorotan: Dinding bangunan ini dipasang dengan total lebih dari 40 pola bata yang berbeda, di antaranya ada yang hanya bisa ditemukan dari jarak yang sangat dekat dengan bantuan tangga. Berdiri di dalam kubah, celah-celah kecil pada bata membiarkan sinar matahari masuk sedemikian rupa sehingga ruangan tersebut menampilkan wajah yang berbeda setiap saat.
Tempat hutan pilar kayu bertemu dengan cermin air yang memantul: di sinilah emir Bukhara dahulu berdoa. Duduklah di tepi kolam, dan saksikan matahari terbenam menyelimuti pilar-pilar berukir dengan warna keemasan.
Fakta cepat: Dua puluh tiang kayu berukir indah menopang struktur atap beranda di depan masjid, masing-masing dihiasi dengan motif yang unik. Kolam yang membentang di depannya, hauz, telah mendinginkan udara dan memantulkan fasad masjid yang memukau selama berabad-abad.
Sorotan: Tempat ini menjadi lokasi salat Jumat para emir, tempat para penguasa dan pengiring mereka duduk di antara tiang-tiang kayu besar. Langit-langit beranda ditutupi pola geometris yang dikerjakan dengan teliti dan warna-warna cerah, yang disempurnakan oleh generasi pengrajin Asia Tengah.
Rahasia empat menara ini adalah tidak ada satu pun yang sama, dan masing-masing menceritakan kisah berbeda. Berjalanlah di halaman yang tenang, lihatlah barang-barang kerajinan tangan, dan temukan simbol-simbol tersembunyi.
Fakta cepat: Keempat menaranya yang berkubah biru masing-masing mendapat dekorasi yang berbeda, tidak ada satu pun yang sama. Bangunan ini sebenarnya adalah gerbang masuk sebuah madrasah kuno, sementara bangunan sekolahnya sendiri sudah lama hilang.
Sorotan: Jika Anda melihat menara-menara ini dari dekat, Anda akan menyadari bahwa masing-masing dibuat dengan pola geometris dan lukisan keramik yang berbeda, seolah-olah pembangunnya mempekerjakan empat pengrajin berbeda. Menurut penduduk setempat, setiap menara melambangkan satu agama yang mewakili masing-masing dari empat penjuru mata angin dunia, meskipun tidak ada bukti tertulis untuk hal ini.
Di sini kamu dapat menyaksikan penampang paling menarik dari lapisan keagamaan Bukhara. Sambil membelai dinding bata yang tenggelam ke dalam tanah, zaman Sogdiana, Zoroaster, Yahudi, dan Muslim terasa bersamaan di telapak tanganmu.
Fakta cepat: Bangunan dari abad ke-12 ini dulunya adalah kuil Zoroastrian, lalu sinagog, sebelum menjadi masjid. Namanya berarti \u201cmasjid lubang\u201d, karena pintu masuknya terletak lebih dari 4 meter di bawah permukaan jalan saat ini.
Sorotan: Pola bata yang menghiasi fasad barat daya masjid ini dikerjakan begitu teliti sehingga tidak terlihat satu pun lapisan mortar di antara bata lumpur yang berusia 800 tahun itu. Pada penggalian sedalam 10 meter di bawah pintu masuk, ditemukan simbol kesuburan pagan dan kerangka sapi raksasa sepanjang 4 meter yang menjadi saksi sejarah sakral bangunan ini yang telah berlangsung ribuan tahun.
Sebuah madrasah tempat penguasa yang membangunnya mengajar astronomi pada abad ke-15. Permainan geometris ubin biru dan jalan setapak yang berkelok tenang membawamu ke alam pengetahuan abad pertengahan.
Fakta cepat: Ulugbek, penguasa astronom terkenal, membangun madrasah ini pada tahun 1417, yang merupakan salah satu pusat ilmiah paling terkemuka di Asia Tengah pada zamannya. Motif bintang yang menghiasi lengkungan pintu masuk dengan tepat mencerminkan hasrat sang pendiri terhadap astronomi, dan saat berdiri di bawah lengkungan gerbang setinggi 12 meter, kita hampir dapat merasakan perjalanan waktu ke masa keemasan Kekaisaran Timurid.
Sorotan: Di fasad madrasah, dahulu terpampang sebuah tulisan yang kini sudah tidak terbaca: "Berusaha mencari ilmu adalah kewajiban setiap muslim laki-laki dan perempuan." Ulugbek sendiri mengajar astronomi dan matematika di sini, yang merupakan hal yang hampir tidak pernah terjadi sebelumnya bagi seorang penguasa pada zamannya.
Selected by City Buddy based on guest reviews and proximity to top attractions
Search all hotels in Bukhara, UzbekistanPowered by agoda
Objek wisata terbaik mana yang tutup pada hari apa dalam seminggu, hal klasik yang bisa merusak perjalanan, sudah kami cek untuk Anda.
Rabu: 1 dari 6 objek wisata terbaik tutup, rencanakan kunjungan museum di hari lain.
Tutup pada Rabu · 1 tutup, 5 buka
Hari buka dari Google Maps (diperiksa 2026-06-27). Hari libur nasional, pemogokan, dan jam musiman dapat berbeda, cek situs resmi sebelum pergi.

Bukhara halva is a dense, crumbly confection made from sesame seeds, sugar syrup, and nuts. Artisans still prepare it using traditional copper cauldrons, stirring for hours to achieve its signature grainy texture.

Sumalak is a sweet, thick wheat pudding made from germinated wheat that is cooked continuously for over 24 hours. It is traditionally prepared during the spring equinox (Nowruz) with women singing songs as they take turns stirring the large pot.

Nisholda is a fluffy, marshmallow-like sweet made from egg whites, sugar, and soaproot extract. It is a specialty of Bukhara and Samarkand, often served during winter months as it is believed to provide warmth and energy.

Bukhara-style plov differs from other Uzbek plovs by using chickpeas, raisins, and sometimes quince, giving it a subtly sweet and savory balance. It is traditionally cooked in a kazan (cast iron cauldron) over an open flame and served on large communal plates called lagan.

Bukhara's shashlik features skewered chunks of marinated lamb or beef grilled over hot coals. The meat is often marinated with onions, vinegar, and spices for hours, and the best versions are cooked on skewers made from vineyard branches which add a subtle smoky flavor.

Bukhara-style samsa is a baked pastry filled with spiced lamb, fat-tail mutton, and onions, wrapped in flaky, layered dough. Unlike other versions, Bukharan samsa is traditionally baked in a tandoor oven (tanur), giving it a distinctive crispy crust and smoky aroma.

Green tea is the heart of Bukharan hospitality, served throughout the day in small bowls called piyola. Guests are always offered tea first, and the host pours a small amount back into the pot before serving to ensure the tea is perfectly mixed.

Ayran is a refreshing, tangy yogurt-based drink made by diluting yogurt with cold water and a pinch of salt. In Bukhara's hot climate, it is a beloved thirst-quencher and is often served alongside plov to aid digestion.

Bukhara's sharbat is a sweet, concentrated fruit syrup made from local fruits like pomegranates, mulberries, or apricots, diluted with cold water. This centuries-old beverage was once served to travelers along the Silk Road as a revitalizing tonic in the desert heat.
Biaya satu hari di Bukhara, dan penipuan yang harus dihindari
Taksi wajar dari bandara: 30,000 UZS - 50,000 UZS (€2.5 - €4)
Pilihan lebih murah: Taksi bersama atau marshrutka dari luar terminal ke kawasan kota tua (5,000 UZS)
Semua penipuan, harga wajar, dan aturanDapatkan PDF dengan semua atraksi, penilaian, dan tips. Sempurna untuk digunakan secara offline.
Ancient Silk Road city with Registan Square and stunning madrasas
Crafts town known for pottery and ceramics workshops
High-speed Afrosiyob to Tashkent and Samarkand; regular trains to Urgench, Nukus, and beyond
Take the Afrosiyob high-speed train from Tashkent (3.5h) or Samarkand (1.5h). From the airport, use Yandex Taxi app for a cheap ride to the old town.
Harga, keamanan, cuaca, dan atraksi terbaik bersebelahan, lengkap dengan rekomendasi untuk setiap jenis wisatawan.
Pilih tanggal dan gaya perjalanan Anda untuk mendapatkan:
Apakah ada hal yang sangat penting bagi Anda?
Pilih semua yang sesuai
Transportasi
Bagaimana Anda ingin berpindah antar tempat?
Bahasa rencana: Bahasa Indonesia